Blog
Kriteria Investasi: Definisi, Macam-Macam, Contohnya
DepositoBPR by Komunal
13 Feb 2026
Saat ingin berinvestasi, sering kali kita bingung memilih instrumen apa yang tepat. Nah, sehubungan dengan ini, mengetahui kriteria investasi akan membantumu dalam menentukan pilihan.
Mengapa demikian? Sebab, dengan melakukan analisis kriteria penilaian investasi, kamu bisa membuat penilaian risiko dan return yang akan didapatkan nantinya.
Dengan begitu, kamu bisa menentukan proyek atau instrumen investasi yang menguntungkan.
Oleh karenanya, pahami kriteria investasi beserta jenis dan contoh analisisnya di artikel berikut ini!
Apa itu Kriteria Investasi?
Saat berinvestasi, kamu tentu ingin meminimalisasi risiko dan mendapatkan keuntungan, bukan? Nah, itulah kenapa kamu perlu mengetahui kriteria penilaian investasi.
Melansir dari berbagai sumber, kriteria investasi adalah parameter untuk mengukur imbal hasil dan biaya yang harus dikeluarkan.
Dengan kata lain, kriteria investasi digunakan sebagai alat untuk menilai risiko dan return yang akan didapatkan saat berinvestasi.
Namun, bagaimana cara mengukurnya? Caranya, kamu bisa menggunakan rumus penghitungan sesuai dengan macam-macam kriteria investasi.
Macam-Macam Kriteria Investasi
Seperti yang sudah disebutkan di atas, kamu bisa melakukan analisis kriteria investasi menggunakan rumus dari setiap macamnya.
Lantas, apa saja macam kriteria penilaian investasi? Ini dia penjelasannya.
1. Net Present Value (NPV)
Pertama, kamu bisa melakukan analisis menggunakan rumus dari Net Present Value (NPV).
Di mana, rumus ini digunakan untuk memproyeksikan nilai keuntungan yang akan didapatkan.
Adapun cara penghitungannya yaitu menyamakan nilai aset saat ini dengan proyeksinya di masa depan.
Lebih jelasnya, berikut ini rumus yang digunakan untuk menghitung NPV:
Net Present Value = Future Value : (1+I)n
Huruf I pada rumus di atas menunjukkan nilai diskon, sementara n merujuk pada lamanya periode investasi.
Apabila hasil penghitungan NPV menunjukkan angka lebih dari nol, maka instrumen investasi tersebut layak dipilih.
Namun, jika angka yang didapatkan kurang dari nol atau negatif, maka instrumen investasi tersebut tidak menguntungkan bila dipilih.
2. Payback Period
Sesuai dengan namanya, payback period adalah salah satu perhitungan yang digunakan dalam menentukan kriteria investasi untuk mengetahui seberapa lama waktu yang dibutuhkan suatu instrumen investasi hingga mencapai titik impas.
Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung payback period yaitu:
Payback Period = (Nilai Investasi/Kas Bersih) x 1 tahun
Semakin cepat atau pendek payback period-nya, maka waktu yang dibutuhkan untuk pengembalian biaya investasi juga lebih cepat.
3. Net Benefit Cost Ratio
Selanjutnya, kamu bisa menilai instrumen investasi menggunakan penghitungan Net Benefit Cost Ratio.
Biasanya, penghitungan ini juga disebut dengan B/C ratio, di mana B merujuk pada benefit dan C adalah cost.
Penghitungan B/C ratio digunakan untuk mengetahui perbandingan keuntungan dan biaya yang dikeluarkan.
Apabila nilai B/C sama dengan 1, maka keuntungan dan biaya yang dikeluarkan dinilai seimbang.
Kemudian, jika nilai B/C lebih dari 1, berarti bahwa keuntungan yang didapatkan akan lebih besar dibandingkan biayanya.
Sementara jika nilai B/C kurang dari 1, maka prospek keuntungannya lebih kecil dari biaya yang dikeluarkan.
Nah, untuk menilai investasi menggunakan B/C ratio, kamu bisa menggunakan rumus berikut ini:
B/C Ratio = Present Value (PV) Manfaat / Present Value (PV) Biaya
4. Accounting Rate of Return
Accounting Rate of Return (ARR) adalah penghitungan yang ditujukan untuk memperkirakan persentase rata-rata keuntungan investasi.
ARR ini biasa digunakan untuk membandingkan perkiraan keuntungan berbagai proyek atau instrumen investasi. Sehingga, investor bisa memilih instrumen yang paling menguntungkan.
Lalu, bagaimana cara menghitung ARR? Berikut rumus yang digunakan.
Accounting Rate of Return (ARR) = (Rata-Rata Laba bersih/Rata-Rata Investasi) x 100%
Setelah diketahui hasilnya, kamu bisa memilih instrumen investasi yang memiliki nilai lebih dari 0%.
5. Profitability Index (PI)
Kriteria penilaian investasi selanjutnya yaitu menggunakan Profitability Index (PI). PI merupakan rasio antara arus kas dengan investasi yang dilakukan.
Untuk menghitung PI, kamu bisa memakai rumus berikut ini:
Profitability Index = Nilai Arus Kas Bersih/Nilai Investasi
Hasil PI lebih dari 1, menunjukkan bahwa instrumen investasi tersebut bisa memberikan keuntungan dan layak dipilih.
Sementara, jika hasilnya kurang dari 1, maka instrumen investasi tersebut dinilai tidak menguntungkan.
6. Internal Rate Return
Terakhir, Internal Rate Return atau IRR. Kriteria investasi ini digunakan untuk menghitung keuntungan serta mengukur kemampuan perusahaan dalam mengembalikan bunga pinjaman.
Untuk menghitung IRR rumus yang digunakan yaitu:
Internal Rate Return (IRR) = i1 + NPV1/NPV1 + NPV2(i1-i2)
i1 = Tingkat bunga yang hasilnya NPV positif
NPV1 = NPV positif
i2 = Tingkat bunga yang hasilnya NPV negatif
NPV2 = NPV negatif
Kriteria investasi yang layak dipilih memiliki nilai IRR tinggi dibandingkan rasio diskon.
Contoh Analisis Kriteria Investasi
Setelah mengetahui penjelasan dan macam kriteria investasi, kamu bisa simak contoh analisis berikut ini:
1. Perhitungan Analisis Payback Period
Contoh analisis yang pertama yaitu menggunakan payback period. Misalnya, sebuah perusahaan akan menginvestasikan dana sebesar Rp600 juta dengan estimasi pengembalian 3 tahun.
Di sisi lain, perusahaan memiliki arus kas sebesar Rp330 juta, maka penghitungannya adalah sebagai berikut:
Payback Period = (Nilai Investasi/Kas Bersih) x 1 tahun
Payback Period = (Rp600.000.000/Rp330.000.000) x 1 tahun = 1,8
Melihat hasil di atas, diketahui bahwa payback period untuk investasi yang akan dipilih yaitu sekitar 1,8 tahun.
Hal ini berarti, pengembalian hingga sampai di titik impas membutuhkan waktu 1,8 tahun.
Sehingga, investasi ini layak dipilih karena waktu payback lebih cepat daripada estimasi.
2. Perhitungan Profitability Index
Di sisi lain, kamu bisa mengetahui kelayakan instrumen investasi atau proyek dengan Profitability Index.
Contohnya, jika perusahaanmu memiliki arus kas bersih sebesar Rp70 juta dalam satu tahun dan nilai investasinya sebesar Rp40 juta, maka penghitungannya adalah sebagai berikut:
Profitability Index = Nilai Arus Kas Bersih/Nilai Investasi
Profitability Index = Rp70.000.000/Rp40.000.000 = 1,75
Dari penghitungan di atas, diketahui bahwa nilai PI lebih dari 1 yang artinya instrumen investasi tersebut layak dipilih.
Itulah uraian lengkap mengenai pengertian kriteria investasi, macam-macam penilaiannya, beserta contoh analisisnya.
Kesimpulannya, kamu bisa menggunakan kriteria investasi untuk menilai kelayakan sebuah proyek atau instrumen investasi.
Kamu juga dapat menggunakan penilaian tersebut untuk membandingkan beberapa instrumen investasi. Sehingga, kamu bisa memilih instrumen yang paling tepat.
Nah, buat kamu yang mau investasi, produk deposito di DepositoBPR by Komunal merupakan pilihan tepat.
Di DepositoBPR by Komunal, terdapat ribuan produk deposito dari ratusan bank BPR yang terdaftar. Sehingga, kamu punya banyak pilihan dan bisa membandingkan untungnya menggunakan kriteria investasi di atas.
Tapi yang pasti, investasi deposito menggunakan DepositoBPR by Komunal lebih untung, karena menawarkan bunga hingga 6,75% per tahunnya.
Bunga tersebut telah dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan aplikasi DepositoBPR by Komunal juga diawasi OJK. Jadi, investasimu lebih aman tentunya.
Makanya, yuk investasi deposito di DepositoBPR by Komunal dan jadikan investasimu #MakinMaksimal!




