Blog
LDR - Loan To Deposit Ratio: Rasio Sederhana yang Bisa Ceritakan Banyak Hal
ditulis oleh
Tim Riset DepositoBPR by Komunal

Jika NPL menceritakan kualitas kredit dan CAR menceritakan kekuatan modal, maka LDR menceritakan sesuatu yang sama pentingnya tapi lebih jarang dipahami: seberapa seimbang sebuah bank dalam mengelola uang yang masuk dan keluar.
LDR atau Loan to Deposit Ratio adalah rasio yang membandingkan total kredit yang disalurkan bank dengan total dana pihak ketiga yang dihimpun. Dalam bahasa paling sederhana, LDR menjawab pertanyaan: dari setiap rupiah yang dititipkan nasabah, berapa rupiah yang disalurkan kembali sebagai pinjaman?
Kedengarannya teknis. Tapi sebenarnya, LDR adalah salah satu indikator paling intuitif dalam keuangan perbankan dan memahaminya bisa membantu Anda menilai apakah sebuah BPR dikelola secara seimbang atau tidak.
Cara Menghitung LDR
Formulanya sangat singkat:
LDR = Total Kredit yang Disalurkan / Total Dana Pihak Ketiga × 100%
Dana Pihak Ketiga (DPK) mencakup seluruh dana yang dihimpun bank dari nasabah: tabungan, deposito berjangka, dan giro. Sementara kredit adalah seluruh pinjaman yang disalurkan kepada debitur.
Jika sebuah BPR menghimpun DPK sebesar Rp100 miliar dan menyalurkan kredit Rp85 miliar, maka LDR-nya adalah 85%. Artinya, dari setiap Rp100 yang dititipkan nasabah, bank menyalurkan Rp85 sebagai pinjaman dan menyimpan Rp15 sebagai cadangan likuiditas.
Apa Artinya LDR Tinggi, Rendah, dan Ideal?
OJK mencatat bahwa LDR yang ideal untuk industri perbankan berada di rentang 78%–92%. Di bawah itu dianggap terlalu konservatif, di atasnya dianggap mulai agresif. Tapi angka ini bukan aturan kaku, setiap bank memiliki fokus bisnis dan toleransi risiko yang berbeda.
Mari kita urai logikanya.
LDR rendah (di bawah 78%) berarti bank menyimpan sebagian besar dana nasabah tanpa menyalurkannya sebagai kredit. Dari sisi likuiditas, ini sangat aman, bank selalu punya cukup kas untuk memenuhi penarikan. Tapi dari sisi bisnis, ini bisa menjadi tanda bahwa bank kurang optimal menjalankan fungsi intermediasinya. Dana yang "tidur" tidak menghasilkan pendapatan bunga, yang pada akhirnya menekan profitabilitas bank dan kemampuannya menawarkan bunga deposito yang kompetitif.
LDR ideal (78%–92%) menunjukkan keseimbangan yang sehat. Bank menyalurkan kredit secara produktif sambil tetap menjaga cadangan likuiditas yang memadai. Ini adalah zona di mana bank bisa menghasilkan pendapatan yang cukup untuk membayar bunga deposito, menutupi biaya operasional, dan menyisakan laba tanpa mengambil risiko likuiditas yang berlebihan.
LDR tinggi (di atas 92%) berarti bank menyalurkan hampir seluruh atau bahkan lebih dari, dana yang dihimpun sebagai kredit. Pada BPR, LDR di atas 100% bukan hal yang jarang terjadi karena bank juga bisa menggunakan modal sendiri (ekuitas) dan dana antar bank untuk mendanai penyaluran kredit, bukan hanya DPK. Meski ini menunjukkan agresivitas dalam menjalankan fungsi intermediasi, LDR yang terlalu tinggi bisa menjadi sinyal bahwa cadangan likuiditas menipis.
Analogi yang Mudah Dipahami
Bayangkan sebuah toko kelontong. Pemilik toko menerima uang dari penjualan (ini seperti DPK), lalu menggunakan uang itu untuk membeli stok baru (ini seperti kredit). Jika pemilik menggunakan 85% dari penjualannya untuk membeli stok dan menyimpan 15% sebagai kas cadangan, bisnisnya seimbang ada stok yang menghasilkan keuntungan dan ada kas untuk jaga-jaga.
Tapi jika pemilik menggunakan seluruh penjualannya untuk stok tanpa menyisakan kas, ia akan kesulitan saat ada pengeluaran mendadak. Sebaliknya, jika ia menyimpan 60% sebagai kas dan hanya membeli sedikit stok, tokonya berjalan tapi tidak tumbuh.
LDR bank bekerja dengan logika yang sama persis.
Contoh Nyata: BPR Nusumma Jatim
Untuk membuat konsep ini lebih konkret, mari kita lihat profil salah satu BPR yang bermitra dengan DepositoBPR by Komunal: PT BPR Nusumma Jatim, berbasis di Jombang, Jawa Timur.
BPR Nusumma Jatim memiliki sejarah unik. Didirikan pada tahun 1990 berdasarkan nota kesepahaman antara Nahdlatul Ulama yang saat itu diwakili oleh K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan Bank Summa. Sejak saat itu, bank ini tumbuh menjadi bagian dari jaringan Nusumma Group dengan cabang-cabang yang tersebar di berbagai kota di Jawa Timur, termasuk Lamongan, Nganjuk, Jember, Malang, Kediri, Blitar, dan Situbondo. BPR Nusumma Jatim juga dua kali meraih penghargaan Indonesia BPR Brand Award atas kinerja dan reputasinya di mata publik.
Berikut profil keuangannya:
LDR: 78,36% — tepat berada di batas bawah zona ideal OJK
CAR: 18,24% — di atas batas minimum 12%
NPL: 2,75% — tergolong rendah untuk industri BPR
Laba: Rp17,92 miliar
Apa yang bisa kita baca dari angka-angka ini?
LDR 78,36% menunjukkan bahwa BPR Nusumma Jatim menyalurkan sekitar 78 rupiah dari setiap 100 rupiah dana nasabah sebagai kredit, dan menyimpan sekitar 22 rupiah sebagai cadangan likuiditas. Ini adalah posisi yang seimbang, bank aktif menyalurkan kredit (fungsi utamanya), tapi tetap menjaga bantalan likuiditas yang nyaman.
Ketika kita gabungkan dengan CAR 18,24% (modal kuat), NPL 2,75% (kredit bermasalah rendah), dan laba Rp17,92 miliar (profitabilitas tinggi), gambaran yang muncul adalah bank yang dikelola secara disiplin: menyalurkan kredit secukupnya, menjaga kualitas portofolio, dan tetap menghasilkan keuntungan yang sehat.
Bagi nasabah deposito, profil seperti ini memberikan keyakinan bahwa bank memiliki cukup pendapatan untuk membayar bunga deposito, cukup kas untuk memenuhi penarikan, dan cukup modal untuk menyerap risiko jika terjadi tekanan pada kualitas kredit.
LDR di Atas 100%: Apakah Berbahaya?
Dalam data BPR mitra DepositoBPR, tidak sedikit BPR yang memiliki LDR di atas 100%. Artinya, total kredit yang disalurkan melebihi total dana pihak ketiga. Apakah ini otomatis berbahaya?
Tidak selalu. BPR memiliki sumber pendanaan selain DPK, termasuk modal sendiri (ekuitas), laba ditahan, dan penempatan dari bank lain. Ketika LDR di atas 100%, itu berarti bank menggunakan sebagian dari sumber pendanaan non-DPK untuk menyalurkan kredit. Selama sumber pendanaan tersebut stabil dan bank memiliki manajemen likuiditas yang baik, LDR di atas 100% bisa tetap sehat.
Sebagai contoh, sebuah BPR dengan LDR 150% tapi CAR 80% dan ekuitas ratusan miliar memiliki buffer yang sangat besar. Modal sendirinya begitu tebal sehingga mampu mendanai penyaluran kredit melebihi DPK tanpa mengorbankan likuiditas.
Yang perlu diwaspadai adalah kombinasi LDR sangat tinggi dengan CAR rendah dan Cash Ratio tipis, ini menandakan bank terlalu agresif menyalurkan kredit tanpa cadangan yang memadai.
Bagaimana Nasabah Deposito Sebaiknya Membaca LDR?
Pertama, jangan membaca LDR secara terisolasi. LDR 90% bisa sangat sehat di satu bank tapi meresahkan di bank lain tergantung pada kekuatan modal, kualitas kredit, dan profitabilitas bank tersebut. Selalu lihat LDR bersama CAR, NPL, dan laba.
Kedua, pahami bahwa LDR bukan soal "lebih rendah lebih baik." LDR yang terlalu rendah justru bisa menunjukkan bank yang kurang produktif. Bank yang tidak menyalurkan kredit secara optimal akan kesulitan menghasilkan pendapatan dan pendapatan itulah yang membayar bunga deposito Anda.
Ketiga, perhatikan konteks bisnis BPR. Bank yang melayani segmen UMKM di daerah pertanian mungkin memiliki pola penyaluran kredit musiman. LDR bisa naik saat musim tanam dan turun saat musim panen. Fluktuasi ini normal dan bukan sinyal negatif.
Keempat, manfaatkan platform yang sudah melakukan analisis untuk Anda. DepositoBPR by Komunal mengevaluasi LDR sebagai bagian dari proses kurasi menyeluruh yang juga mencakup CAR, NPL, BOPO, Cash Ratio, dan profitabilitas. Nasabah tidak perlu menjadi analis keuangan platform sudah menyaring BPR mitra berdasarkan kombinasi seluruh indikator ini.
Keseimbangan adalah Kunci
LDR pada dasarnya mengukur satu hal: keseimbangan. Apakah bank cukup aktif menyalurkan kredit untuk menghasilkan pendapatan? Apakah bank cukup bijak menyisakan cadangan untuk menjaga likuiditas? Apakah bank tidak terlalu konservatif sehingga mengorbankan pertumbuhan, atau terlalu agresif sehingga mengorbankan keamanan?
Bank yang sehat bukan bank yang tidak pernah mengambil risiko. Bank yang sehat adalah bank yang mengambil risiko secara terukur menyalurkan kredit secukupnya, menjaga kualitas portofolio, dan selalu menyisakan ruang bernapas. LDR adalah salah satu cara paling sederhana untuk menilai apakah keseimbangan itu terjaga.
Dan seperti halnya indikator kesehatan lainnya, LDR paling bermakna ketika dibaca sebagai bagian dari gambaran besar bersama modal yang kuat, kredit yang berkualitas, dan lembaga penjamin yang siap menjadi jaring pengaman terakhir.
Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi penempatan dana pada BPR tertentu. Data keuangan bersumber dari laporan keuangan BPR yang dipublikasikan kepada OJK. Seluruh produk deposito di DepositoBPR by Komunal dijamin oleh LPS sesuai ketentuan yang berlaku.
Apakah artikel ini membantu kamu memahami topik ini?
Masukan kamu sangat berarti untuk kami membuat konten yang lebih baik.
Jawaban kamu bersifat anonim dan hanya digunakan untuk peningkatan kualitas konten.




