Blog
Simpanan BPR/BPRS Capai Rp183,79 Triliun di Akhir 2025
DepositoBPR By Komunal

Industri Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS) menutup tahun 2025 dengan catatan positif. Data terbaru dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan total simpanan BPR/BPRS mencapai Rp183,79 triliun per Desember 2025 tumbuh 5,88% secara year-on-year (YoY) dari posisi Rp173,37 triliun di Desember 2024. Pencapaian ini menegaskan bahwa industri perbankan mikro Indonesia tetap mampu menghimpun kepercayaan masyarakat, bahkan ketika jumlah bank terus menyusut akibat konsolidasi yang sedang berlangsung.
Jumlah Bank Berkurang, Simpanan Justru Melonjak
Salah satu narasi paling menarik dari data Semester II 2025 adalah kontras antara penurunan jumlah bank dan kenaikan volume simpanan. Per Desember 2025, tercatat 1.487 BPR/BPRS yang aktif melaporkan data yang terdiri dari 1.313 BPR konvensional (88,30%) dan 174 BPR Syariah (11,70%). Dibandingkan Januari 2025 yang mencatat 1.530 bank, industri kehilangan 43 entitas sepanjang tahun, hampir seluruhnya dari segmen konvensional.
Namun penurunan jumlah bank ini justru berjalan seiring dengan pertumbuhan simpanan sebesar Rp10,42 triliun sepanjang tahun berasal dari Rp173,37 triliun menjadi Rp183,79 triliun. Artinya, rata-rata simpanan per bank meningkat secara signifikan. Ini bukan sekadar pertumbuhan nominal, melainkan sinyal bahwa konsolidasi menghasilkan bank-bank yang lebih kuat dan lebih dipercaya oleh nasabah.
Secara bulanan di semester kedua, pertumbuhan simpanan menunjukkan akselerasi yang jelas. Dari posisi Rp174,49 triliun di Juni, simpanan tumbuh hampir Rp10 triliun hanya dalam enam bulan dengan laju yang lebih cepat dibandingkan semester pertama yang hanya menambah Rp1 triliun dari Desember 2024 ke Juni 2025. Pola ini konsisten dengan siklus tahunan di mana akhir tahun biasanya menjadi periode puncak penghimpunan dana, didorong oleh pencairan bonus, THR, dan aktivitas ekonomi akhir tahun.
Deposito Tetap Menjadi Tulang Punggung
Produk deposito berjangka masih menjadi motor utama penghimpunan dana, meskipun porsinya sedikit menurun dari 71,33% di Semester I menjadi 70,03% di akhir tahun. Penurunan porsi ini bukan karena deposito melemah namun justru sebaliknya, nominal deposito tumbuh 1,00% secara bulanan di Desember dan tabungan tumbuh lebih cepat pada 2,54% di bulan yang sama.
Lonjakan tabungan di Desember lazim terjadi karena masuknya dana musiman seperti bonus tahunan dan tunjangan hari raya. Meski bersifat temporer, fenomena ini menunjukkan bahwa BPR/BPRS juga berfungsi sebagai instrumen penyimpanan dana jangka pendek bagi masyarakat, tidak semata-mata sebagai tempat deposito.
Dari sisi tier simpanan, segmen di bawah Rp100 juta tetap mendominasi dengan porsi 28,57% dari total nominal. Namun yang menarik, tier di atas Rp5 miliar mencatatkan lonjakan tertinggi sebesar 8,52% secara bulanan di Desember. Kenaikan pada segmen jumbo ini mengindikasikan masuknya dana institusional atau korporasi menjelang penutupan tahun buku. Ini sebuah sinyal bahwa BPR/BPRS mulai dilirik sebagai alternatif penempatan dana oleh kalangan yang lebih luas.
Hampir 15,8 Juta Rekening: Inklusi Keuangan yang Nyata
Total rekening simpanan BPR/BPRS per Desember 2025 mencapai 15.781.990 rekening, naik 0,86% YoY. Mayoritas rekening (95,02%) merupakan rekening tabungan, sementara sisanya adalah deposito. Dari sisi tier, 98,03% rekening berada di segmen di bawah Rp100 juta, menegaskan karakter BPR/BPRS sebagai lembaga keuangan yang melayani segmen ritel dan usaha mikro.
Angka hampir 15,8 juta rekening ini memiliki makna yang melampaui statistik. Setiap rekening merepresentasikan satu individu atau keluarga yang memiliki akses ke sistem perbankan formal. Di banyak wilayah Indonesia, terutama di luar kota-kota besar, BPR/BPRS menjadi satu-satunya lembaga keuangan yang hadir secara fisik. Peran ini menjadikan BPR/BPRS sebagai pilar utama inklusi keuangan nasional.
Dana Pihak Ketiga: Fondasi Organik yang Kokoh
Berdasarkan kepemilikan, Dana Pihak Ketiga (DPK) menyumbang Rp169,73 triliun atau 92,35% dari total simpanan. Sisanya, Rp14,06 triliun (7,65%), berasal dari simpanan bank lain. Dibandingkan Semester I di mana DPK tercatat Rp161,81 triliun, terjadi pertumbuhan Rp7,92 triliun dalam satu semester, pertumbuhan organik yang didorong langsung oleh kepercayaan nasabah individual.
Proporsi simpanan bank lain yang sedikit meningkat dari 7,27% menjadi 7,65% juga patut dicermati. Kenaikan ini menunjukkan bahwa mekanisme penempatan antar bank termasuk melalui platform marketplace deposito seperti DepositoBPR by Komunal mulai memainkan peran yang semakin relevan dalam ekosistem pendanaan BPR.
Peta Geografis: Jawa Masih Dominan, Tapi Dinamika Bergeser
Jawa Tengah kembali memimpin sebagai provinsi dengan simpanan BPR/BPRS terbesar: Rp43,72 triliun (23,79%) dengan 5.115.036 rekening. Lima besar provinsi tetap konsisten dengan Semester I, yaitu Jawa Tengah, Jawa Barat (Rp25,7 triliun), Jawa Timur (Rp21,3 triliun), Bali (Rp19,4 triliun), dan Kepulauan Riau (Rp11,6 triliun).
Yang menarik dari data semester kedua adalah pertumbuhan di beberapa provinsi di luar top lima. Lampung naik ke posisi keenam dengan Rp9,2 triliun, sementara Banten mencatatkan Rp7,7 triliun di posisi kedelapan. DKI Jakarta, meskipun sebagai ibu kota negara, hanya berada di posisi kesembilan dengan Rp6,0 triliun. Ini mencerminkan bahwa pasar BPR secara alamiah berkembang di wilayah-wilayah yang kurang terlayani oleh bank umum besar.
BPR Konvensional vs Syariah: Segmen Syariah Terus Tumbuh
BPR konvensional menguasai Rp162,58 triliun (88,46%) dari total simpanan, sementara BPR Syariah mengelola Rp21,20 triliun (11,54%). Dibandingkan Juni 2025 di mana BPR Syariah mencatat Rp19,82 triliun, terjadi pertumbuhan Rp1,38 triliun dalam satu semester laju pertumbuhan sekitar 6,97% yang lebih tinggi dari rata-rata industri.
Pertumbuhan BPR Syariah yang melampaui rata-rata industri ini menjadi indikasi positif bagi diversifikasi produk perbankan mikro. Dengan jumlah 174 bank yang relatif stabil sepanjang tahun (bahkan bertambah 1 dari 173 di pertengahan tahun), segmen syariah menunjukkan ketahanan yang baik di tengah konsolidasi yang lebih agresif di sisi konvensional.
Penjaminan LPS: Jaring Pengaman yang Hampir Sempurna
LPS menjamin penuh 15.777.756 rekening atau 99,97% dari total rekening BPR/BPRS. Hanya 4.234 rekening (0,03%) yang dijamin sebagian, yaitu simpanan yang melampaui batas penjaminan Rp2 miliar per nasabah per bank.
Cakupan hampir total ini memberikan fondasi kepercayaan yang sangat kuat. Bagi masyarakat, menempatkan dana di BPR/BPRS memiliki tingkat keamanan yang praktis setara dengan bank umum sebuah jaminan yang krusial untuk menjaga dan memperluas basis nasabah industri.
Menatap 2026: Momentum yang Perlu Dijaga
Tahun 2025 ditutup dengan industri BPR/BPRS dalam kondisi yang lebih ramping namun lebih kuat. Total simpanan Rp183,79 triliun dan pertumbuhan 5,88% YoY menunjukkan bahwa konsolidasi berjalan sehat, bank yang tersisa menjadi lebih besar, lebih efisien, dan lebih dipercaya. Tantangan ke depan terletak pada kemampuan industri untuk mempertahankan momentum ini melalui digitalisasi layanan, penguatan tata kelola, dan perluasan jangkauan di wilayah-wilayah yang masih underpenetrated.
Peran LPS sebagai penjamin simpanan akan terus menjadi faktor kunci. Selama jaring pengaman ini tetap solid, masyarakat Indonesia memiliki alasan kuat untuk terus mempercayakan dananya kepada BPR/BPRS sebagai lembaga keuangan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari jutaan keluarga Indonesia.
Sumber: Lembaga Penjamin Simpanan, Data Distribusi Simpanan BPR/BPRS Semester II-2025. Data simpanan periode 2025 berasal dari Laporan Bulanan BPR/BPRS Terintegrasi dengan cut-off 25 Maret 2026.
Pelajari Lebih Lanjut di sini
Unduh Buku Panduan Komunal Poin




