Blog

Keamanan Siber DepositoBPR: 6 Pertahanan di Balik Layar yang Menjaga Dana Nasabah

ditulis oleh

Eko Purnomo


Sepanjang 2025, BSSN mencatat 5,5 miliar serangan siber menargetkan Indonesia — naik 714% dibandingkan rata-rata lima tahun sebelumnya. Sektor keuangan menjadi salah satu target utama. OJK melaporkan kerugian akibat penipuan digital melampaui Rp2,6 triliun hanya sampai Mei 2025. Dan yang lebih mengkhawatirkan, 60% insiden keamanan di sektor keuangan melibatkan faktor manusia yaitu kelalaian karyawan, manipulasi sosial, atau kesalahan prosedur.

Bagi platform seperti DepositoBPR by Komunal yang mengelola data pribadi dan transaksi keuangan ratusan ribu nasabah, angka-angka ini bukan sekadar statistik. Setiap KTP yang diunggah, setiap nomor rekening yang dimasukkan, setiap tanda tangan digital yang dibubuhkan adalah amanah yang harus dijaga dengan sistem pertahanan berlapis.

Artikel ini membuka tirai di balik layar yang menjelaskan enam pilar keamanan siber yang menjadi standar perlindungan bagi platform keuangan digital, dan mengapa masing-masing penting bagi keamanan dana dan data nasabah.

Sekilas: 6 Pilar Keamanan Siber

Sebelum masuk ke penjelasan detail, berikut ringkasan enam pilar keamanan yang akan dibahas:

No

Pilar Keamanan

Fungsi Utama

Analogi Sederhana

1

Penetration Testing

Menguji ketahanan sistem dengan mensimulasikan serangan nyata

Menyewa "pencuri profesional" untuk mencoba membobol rumahmu dan melaporkan celahnya

2

Vulnerability Assessment

Memindai seluruh komponen sistem untuk menemukan kelemahan sebelum dieksploitasi

Medical check-up rutin berguna untuk mendeteksi penyakit sebelum menimbulkan gejala

3

Secure Coding

Memastikan aplikasi dibangun dengan prinsip keamanan sejak baris kode pertama

Membangun rumah dengan material tahan gempa, bukan menambal retakan setelah gempa terjadi

4

Code of Conduct

Menetapkan standar perilaku seluruh karyawan dalam menangani data dan sistem

Aturan main yang memastikan setiap orang di dalam organisasi menjaga keamanan, bukan hanya tim IT

5

Enkripsi & Perlindungan Data

Mengacak data sehingga tidak bisa dibaca meskipun berhasil dicuri

Mengirim surat dalam bahasa sandi yang hanya bisa dibaca oleh penerima yang dituju

6

Incident Response Plan

Prosedur terstruktur untuk mendeteksi, merespons, dan memulihkan diri dari insiden keamanan

Rencana evakuasi gedung, semua orang tahu apa yang harus dilakukan saat alarm berbunyi

Mari kita bahas masing-masing secara lebih mendalam.

1. Penetration Testing: Menyerang Diri Sendiri Sebelum Diserang Orang Lain

Penetration testing atau sering disebut "pentest" adalah proses di mana perusahaan menyewa ahli keamanan siber profesional (sering disebut ethical hacker) untuk mencoba membobol sistemnya sendiri. Tujuannya bukan merusak, tapi menemukan celah keamanan sebelum pihak jahat menemukannya lebih dulu.

Aspek

Detail

Apa yang diuji

Aplikasi web (depositobpr.id), aplikasi mobile, API internal, infrastruktur server, dan jaringan

Siapa yang melakukan

Pihak ketiga independen yang tersertifikasi (bukan tim internal) untuk menjamin objektivitas

Metodologi

Mengikuti standar internasional seperti OWASP Top 10 (kerentanan aplikasi web paling umum) dan PTES (Penetration Testing Execution Standard)

Frekuensi

Minimal satu kali per tahun, serta setiap ada perubahan besar pada sistem atau peluncuran fitur baru

Output

Laporan detail berisi temuan kerentanan, tingkat keparahan (critical/high/medium/low), bukti eksploitasi, dan rekomendasi perbaikan

Regulasi terkait

POJK 3/2024 tentang ITSK dan Panduan Keamanan Siber OJK untuk ITSK (Juli 2024) mensyaratkan pengujian keamanan secara berkala

Dalam praktiknya, pentest dilakukan pada beberapa level. Black box testing mensimulasikan serangan dari luar tanpa pengetahuan tentang sistem, persis seperti yang akan dilakukan peretas sungguhan. Grey box testing memberikan sebagian informasi kepada penguji, mensimulasikan serangan dari pihak yang memiliki akses terbatas. Dan white box testing memberikan akses penuh ke kode sumber dan arsitektur, memungkinkan pengujian yang paling mendalam.

Bagi nasabah, pentest adalah jaminan bahwa keamanan platform tidak hanya diklaim, tapi diuji secara aktif oleh pihak independen yang memang tugasnya mencari celah.

2. Vulnerability Assessment: Memeriksa Setiap Sudut Sistem

Jika pentest adalah simulasi serangan, vulnerability assessment (VA) adalah pemeriksaan sistematis dan menyeluruh terhadap seluruh komponen teknologi untuk menemukan kelemahan yang diketahui. Cakupannya lebih luas dari pentest karena tidak hanya menguji dari luar, tapi juga memeriksa konfigurasi internal.

Komponen yang Diperiksa

Contoh Kerentanan yang Dicari

Docker image & container

Image yang menggunakan base OS dengan kerentanan yang sudah dipublikasikan, konfigurasi container yang terlalu permisif, secret atau credential yang tertanam di dalam image

Library & dependency

Library open-source yang digunakan dalam aplikasi memiliki kerentanan keamanan yang sudah diketahui (CVE) tapi belum di-patch atau di-update

Vendor & pihak ketiga

Payment gateway, penyedia tanda tangan digital, dan layanan cloud yang digunakan diperiksa standar keamanannya — karena kerentanan bisa masuk melalui mitra

Konfigurasi server

Pengaturan firewall, port yang terbuka, protokol enkripsi yang digunakan, dan kebijakan update sistem operasi

Database

Hak akses yang terlalu luas, data sensitif yang tidak terenkripsi, dan konfigurasi backup yang tidak aman

Jaringan

Segmentasi jaringan, deteksi intrusi, dan isolasi antara lingkungan produksi, staging, dan development

Yang membuat VA krusial adalah sifatnya yang berkelanjutan. Setiap hari, kerentanan baru ditemukan di berbagai software dan library yang digunakan oleh ribuan perusahaan di seluruh dunia. Database kerentanan global (CVE) memublikasikan puluhan ribu kerentanan baru setiap tahun. VA memastikan bahwa komponen-komponen yang digunakan platform selalu diperiksa terhadap database kerentanan terbaru.

Khusus untuk Docker image. teknologi containerisasi yang umum digunakan platform digital modern. VA memeriksa apakah image yang digunakan memiliki kerentanan di level sistem operasi, apakah konfigurasinya mengikuti prinsip least privilege, dan apakah tidak ada credential atau secret yang tertinggal di dalam image. Satu Docker image yang rentan bisa menjadi pintu masuk bagi penyerang ke seluruh sistem.

3. Secure Coding: Keamanan Dimulai dari Baris Kode Pertama

Sebagian besar kerentanan keamanan bukan berasal dari serangan canggih melainkan dari kesalahan dalam penulisan kode. SQL injection, cross-site scripting (XSS), dan insecure direct object reference adalah contoh kerentanan yang muncul karena developer tidak menerapkan prinsip keamanan saat menulis kode.

Secure coding adalah pendekatan pengembangan software di mana keamanan menjadi pertimbangan sejak tahap desain, bukan ditambahkan setelah aplikasi selesai dibangun.

Prinsip Secure Coding

Penjelasan

Contoh Implementasi

Input Validation

Setiap data yang dimasukkan pengguna harus diperiksa dan dibersihkan sebelum diproses

Formulir pendaftaran memvalidasi format KTP, menolak karakter mencurigakan, dan membatasi ukuran file upload

Least Privilege

Setiap komponen sistem hanya diberi akses seminimal yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsinya

Modul yang menampilkan suku bunga tidak memiliki akses ke database data pribadi nasabah

Secure Authentication

Proses login dan verifikasi identitas menggunakan mekanisme yang tahan terhadap serangan

Multi-factor authentication, session management yang ketat, dan penyimpanan password dengan hashing yang aman

Error Handling

Pesan error tidak mengungkapkan informasi internal sistem yang bisa dimanfaatkan penyerang

Pengguna melihat "Terjadi kesalahan, silakan coba lagi" bukan detail teknis tentang database atau server

Dependency Management

Library dan framework yang digunakan selalu di-update dan diperiksa terhadap kerentanan yang diketahui

Automated scanning terhadap seluruh dependency sebelum kode masuk ke produksi

Code Review

Setiap perubahan kode harus direview oleh developer lain sebelum digabungkan ke sistem produksi

Peer review wajib dengan checklist keamanan sebelum merge, ditambah automated security scanning

Standar internasional yang menjadi acuan utama adalah OWASP Secure Coding Practices dan OWASP Top 10, daftar sepuluh kerentanan aplikasi web paling kritis yang diperbarui secara berkala. Platform yang menerapkan secure coding memastikan bahwa sepuluh kerentanan ini tidak ada di dalam aplikasinya.

4. Code of Conduct: Karena Ancaman Terbesar Bukan Selalu dari Luar

Data DBIR Verizon menunjukkan bahwa 60% insiden keamanan di sektor keuangan melibatkan faktor manusia. Bukan peretas canggih dari luar negeri tetapi karyawan yang mengklik tautan phishing, membagikan password, atau mengakses data di luar kewenangannya.

Code of Conduct keamanan informasi adalah dokumen yang menetapkan standar perilaku seluruh karyawan, dari level direksi hingga staf operasional dalam menangani data, sistem, dan informasi sensitif.

Area yang Diatur

Ketentuan

Penanganan data nasabah

Data pribadi hanya boleh diakses oleh personil yang berwenang, hanya untuk tujuan bisnis yang sah, dan setiap akses tercatat dalam audit log

Penggunaan perangkat

Perangkat kerja tidak boleh digunakan untuk kepentingan pribadi yang berisiko; instalasi software harus melalui persetujuan tim IT

Password dan autentikasi

Dilarang membagikan password, menggunakan password yang sama untuk beberapa akun, atau menyimpan password dalam bentuk plain text

Komunikasi dan media sosial

Dilarang membagikan informasi internal perusahaan, screenshot sistem, atau data operasional di media sosial atau platform publik

Pelaporan insiden

Setiap karyawan wajib melaporkan kejadian mencurigakan (email phishing, aktivitas tidak wajar, kehilangan perangkat) sesegera mungkin

Clean desk & clear screen

Dokumen sensitif tidak boleh ditinggalkan terbuka di meja; layar komputer harus dikunci saat ditinggalkan

Konsekuensi pelanggaran

Pelanggaran terhadap code of conduct dapat berujung pada teguran, sanksi administratif, hingga pemutusan hubungan kerja

Code of Conduct bukan dokumen yang hanya ditandatangani saat onboarding lalu dilupakan. Efektivitasnya bergantung pada pelatihan berkala, simulasi (misalnya phishing simulation untuk menguji kewaspadaan karyawan), dan penegakan konsekuensi yang konsisten. BSSN sendiri menekankan pentingnya membangun human firewall yaitu kesadaran bahwa setiap karyawan adalah garis pertahanan pertama keamanan siber.

5. Enkripsi & Perlindungan Data: Membuat Data Tidak Bernilai bagi Pencuri

Meskipun seluruh pertahanan di atas sudah diterapkan, prinsip keamanan yang baik selalu mengasumsikan skenario terburuk: bagaimana jika data berhasil dicuri? Enkripsi memastikan bahwa data yang dicuri tidak bisa dibaca atau digunakan.

Jenis Enkripsi

Penerapan

Enkripsi saat transit (in transit)

Seluruh komunikasi antara browser/aplikasi nasabah dan server platform menggunakan protokol TLS/SSL — ikon gembok di address bar browser adalah indikatornya

Enkripsi saat tersimpan (at rest)

Data sensitif di database (KTP, nomor rekening, tanda tangan digital) disimpan dalam bentuk terenkripsi bahkan administrator database tidak bisa membaca data mentah

Tokenisasi

Data sensitif diganti dengan token acak untuk proses internal; data asli hanya bisa diakses melalui sistem tokenisasi yang terisolasi

Hashing password

Password nasabah tidak pernah disimpan dalam bentuk asli yang disimpan adalah hasil hash yang tidak bisa di-reverse

Prinsipnya sederhana: jika data dicuri tapi tidak bisa dibaca, maka pencurian itu tidak menghasilkan apa-apa bagi pelaku.

6. Incident Response Plan: Kesiapan Saat yang Terburuk Terjadi

Tidak ada sistem yang 100% kebal dari serangan. Yang membedakan platform yang bertanggung jawab dari yang tidak bukan apakah insiden terjadi, tapi seberapa cepat dan efektif ia merespons.

Fase Respons

Kegiatan

Deteksi

Sistem monitoring otomatis mendeteksi aktivitas anomali, lonjakan akses tidak wajar, percobaan login massal, atau perubahan data yang tidak terotorisasi

Eskalasi

Tim keamanan melakukan triase untuk menentukan tingkat keparahan insiden dan mengaktifkan protokol respons yang sesuai

Containment

Mengisolasi sistem yang terdampak untuk mencegah penyebaran, seperti menutup pintu ruangan yang terbakar agar api tidak merambat

Eradikasi

Menghapus penyebab insiden dari sistem: menutup celah keamanan, menghapus malware, mencabut akses yang disusupi

Pemulihan

Memulihkan layanan ke kondisi normal menggunakan backup yang sudah terverifikasi, dengan validasi bahwa ancaman sudah sepenuhnya diatasi

Pembelajaran

Melakukan analisis pasca-insiden (post-mortem): apa yang terjadi, mengapa bisa terjadi, dan apa yang harus diperbaiki agar tidak terulang

Fase terakhir yaitu pembelajaran, sering kali yang paling penting. Setiap insiden, sekecil apa pun, menjadi bahan untuk memperkuat sistem. Platform yang matang secara keamanan tidak pernah membiarkan insiden berlalu tanpa pelajaran.

Bagaimana Semua Ini Melindungi Nasabah?

Keenam pilar di atas tidak bekerja secara terpisah. Mereka membentuk ekosistem pertahanan berlapis yang saling melengkapi:

Lapisan

Pilar yang Bekerja

Perlindungan

Sebelum serangan

Secure Coding, Vulnerability Assessment, Code of Conduct

Meminimalkan celah yang bisa dieksploitasi, baik celah teknis maupun celah manusia

Saat serangan terjadi

Penetration Testing (temuan sudah diperbaiki), Enkripsi, Monitoring

Serangan terdeteksi lebih cepat, data yang berhasil diakses tidak bisa dibaca

Setelah serangan

Incident Response Plan, backup terenkripsi

Dampak diminimalkan, layanan dipulihkan, dan pelajaran diambil untuk penguatan

Bagi nasabah, ini berarti bahwa setiap kali kamu mengakses depositobpr.id, data yang kamu kirim dienkripsi dalam perjalanan, disimpan dalam bentuk terenkripsi di server, diakses hanya oleh personil berwenang berdasarkan code of conduct, dilindungi oleh aplikasi yang dibangun dengan prinsip secure coding, di-scan secara berkala melalui vulnerability assessment, dan diuji ketahanannya melalui penetration testing.

Ditambah dengan sertifikasi ISO 27001 sebagai kerangka manajemen keamanan informasi yang menaungi seluruh pilar di atas, serta status PAJK dari OJK yang mewajibkan standar keamanan dan tata kelola platform, nasabah mendapatkan perlindungan yang terstruktur dan terawasi.

Penutup: Keamanan Bukan Fitur, Tapi Fondasi

Di era di mana 5,5 miliar serangan siber menghantam Indonesia dalam satu tahun dan serangan berbasis AI semakin canggih, keamanan siber bukan lagi "nice-to-have" ia adalah fondasi eksistensi sebuah platform keuangan digital.

Nasabah berhak tahu bahwa platform tempat mereka mempercayakan data dan dana memiliki pertahanan yang nyata bukan sekadar klaim di halaman "Tentang Kami." Penetration testing, vulnerability assessment, secure coding, code of conduct, enkripsi, dan incident response plan adalah enam pilar yang, ketika dijalankan dengan konsisten, membentuk benteng pertahanan yang membuat data dan dana nasabah terlindungi dari ujung ke ujung.

Karena pada akhirnya, kepercayaan nasabah bukan hanya soal bunga deposito yang menarik atau tampilan aplikasi yang modern. Kepercayaan dibangun di atas keyakinan bahwa di balik layar, ada sistem dan manusia yang bekerja tanpa henti untuk menjaga apa yang kamu percayakan.

Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif tentang standar keamanan siber di industri keuangan digital. DepositoBPR by Komunal tercatat di OJK sebagai Penyelenggara Agregasi Jasa Keuangan (No. S-576/IK.01/2024). Seluruh produk deposito dijamin oleh LPS sesuai ketentuan yang berlaku.

Apakah artikel ini membantu kamu memahami topik ini?

Masukan kamu sangat berarti untuk kami membuat konten yang lebih baik.

Jawaban kamu bersifat anonim dan hanya digunakan untuk peningkatan kualitas konten.

Bagikan

Bagikan

DepositoBPR by Komunal

Simpanan Rasa Investasi

Download

Kantor

Kantor Utama

GoWork Sampoerna Strategic

Square, North Tower 12th floor,

Jl. Jend. Sudirman No Kav.45, Karet Semanggi, Setiabudi, Jakarta Selatan, 12930

Kantor Cabang

Ciputra World Office 30th floor, Jl. Mayjen Sungkono Kav. 89, Gunung Sari, Dukuh Pakis, RT/RW 002/002, Surabaya, Jawa Timur, 60224

Layanan Pelanggan

No. Kantor Cabang

+62 31-3000-3303

Ikuti Kami di

Terdaftar dan diawasi OJK

No. S-576/IK.01/2024

Terdaftar di

Logo Kominfo
Logo Fintech Indonesia

Telah Tersertifikasi

Logo ISO 27001

Terdaftar dan diawasi OJK No. S-576/IK.01/2024

Deposito melalui DepositoBPR by Komunal telah dijamin oleh LPS

© 2026 PT. Komunal Sejahtera Indonesia

Kantor

Kantor Utama

GoWork Sampoerna Strategic

Square, North Tower 12th floor,

Jl. Jend. Sudirman No Kav.45, Karet Semanggi, Setiabudi, Jakarta Selatan, 12930

Kantor Cabang

Ciputra World Office 30th floor, Jl. Mayjen Sungkono Kav. 89, Gunung Sari, Dukuh Pakis, RT/RW 002/002, Surabaya, Jawa Timur, 60224

Layanan Pelanggan

No. Kantor Cabang

+62 31-3000-3303

Ikuti Kami di

Terdaftar dan diawasi oleh OJK

No. S-576/IK.01/2024

Terdaftar Di

Logo Kominfo
Logo Fintech Indonesia

Telah Tersertifikasi

Logo ISO 27001

PT. Komunal Sejahtera Indonesia
Terdaftar dan diawasi OJK No. S-576/IK.01/2024

Deposito melalui DepositoBPR by Komunal telah dijamin oleh LPS

© 2026 PT. Komunal Sejahtera Indonesia

Kantor

Kantor Utama

GoWork Sampoerna Strategic

Square, North Tower 12th floor,

Jl. Jend. Sudirman No Kav.45, Karet Semanggi, Setiabudi, Jakarta Selatan, 12930

Branch Office

Ciputra World Office 30th floor, Jl. Mayjen Sungkono Kav. 89, Gunung Sari, Dukuh Pakis, RT/RW 002/002, Surabaya, Jawa Timur, 60224

Layanan Pelanggan

No. Kantor Cabang

+62 31-3000-3303

Ikuti Kami di

Terdaftar dan diawasi OJK

No. S-576/IK.01/2024

Terdaftar di

Logo Kominfo
Logo Fintech Indonesia

Telah Tersertifikasi

Logo ISO 27001

PT. Komunal Sejahtera Indonesia
Terdaftar dan diawasi OJK No. S-576/IK.01/2024

Deposito melalui DepositoBPR by Komunal telah dijamin oleh LPS

© 2026 PT. Komunal Sejahtera Indonesia

DepositoBPR by Komunal

Simpanan Rasa Investasi

Download

Bagikan

Logo DepositoBPR by Komunal