blog
Catat! Ini Pentingnya Mengetahui Laporan Keuangan BPR
Komunal Indonesia
28 Januari 2022

Ada satu langkah penting yang wajib dilakukan sebelum Anda memutuskan untuk menginvestasikan dana Anda ke produk Deposito BPR (Bank Perkreditan Rakyat). Langkah ini ialah memastikan bahwa BPR yang Anda pilih sehat keuangannya. Hal ini dapat dilakukan dengan mengecek laporan keuangan dari BPR pilihan Anda.


Secara singkat, Laporan keuangan adalah intisari dari operasional semua organisasi, baik itu yayasan, perusahaan, maupun bank. Karena, skala operasional yang umumnya lebih kecil dari bank umum, kesehatan neraca keuangan BPR perlu ditelaah lebih lanjut untuk memastikan likuiditas dari simpanan/pinjaman.


Lalu, apa yang dimaksud laporan keuangan, apa saja fungsinya, dan hal-hal apa yang perlu diperhatikan saat membaca laporan keuangan BPR? Simak rangkuman di bawah ini!


Pengertian Laporan Keuangan BPR


Secara umum, laporan keuangan adalah catatan keuangan perusahaan pada suatu periode akuntansi yang dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja perusahaan tersebut. Laporan ini merangkum pencatatan uang dan transaksi bisnis, baik uang yang keluar dan masuk, laba dan profit operasional, serta neraca perdagangan. Laporan keuangan dibuat dalam kurun periode tertentu, sesuai dengan kebijakan masing-masing perusahaan. Biasanya, periode yang dipilih adalah per triwulan (3 bulan) atau per tahun.


Perusahaan perlu membuat laporan keuangan sebagai bagian dari transparansi terhadap berbagai pihak, baik itu dalam bentuk audit oleh lembaga pemerintah, akuntan, firma, atau lembaga lainnya dengan tujuan untuk memastikan akurasi dan untuk tujuan pajak, pembiayaan, atau investasi. Laporan keuangan yang lengkap biasanya terdiri dari:


  • Laporan posisi keuangan (Neraca)

  • Laporan laba rugi komprehensif

  • Laporan perubahan ekuitas

  • Laporan arus kas

Untuk mengukur posisi keuangan, biasanya unsur yang masuk ke dalam kalkulasi adalah aset, kewajiban (hutang), dan ekuitas. Sementara itu, dalam laporan laba rugi komprehensif, kita dapat melihat keseluruhan kinerja perusahaan dengan membandingkan antara angka penghasilan dan beban. Salah satu tujuan utama pembuatan laporan keuangan yaitu untuk mengetahui kondisi finansial perusahaan secara keseluruhan, agar para pemangku kepentingan dan pengguna informasi akuntansi bisa melakukan evaluasi dan cara pencegahan ketika kondisi keuangan usaha mengalami masalah atau memerlukan perubahan.



Tidak hanya berlaku untuk perusahaan, laporan keuangan juga wajib dibuat oleh lembaga finansial, termasuk BPR. Laporan keuangan BPR mengacu pada Ketentuan Peraturan OJK 48/POJK.03/2017 Tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank Perkreditan Rakyat. BPR wajib menyampaikan laporan keuangan dan informasi lainnya yang sesuai dengan jenis, waktu, cakupan yang ditetapkan oleh OJK, sebagai bentuk transparansi kinerja keuangan BPR kepada pemerintah dan publik.



Laporan Tahunan BPR biasanya disusun dalam kurun waktu satu tahun untuk memberikan gambaran lengkap kinerja bank, yang meliputi informasi umum dan laporan keuangan BPR. Agar Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan BPR dapat diperbandingkan, penyajian laporan tersebut wajib mengikuti standar akuntansi keuangan yang berlaku bagi BPR dan Pedoman Akuntansi bagi BPR (PA BPR).



Berikut ini merupakan beberapa ketentuan penyampaian keuangan BPR:


  1. 1.

    Laporan keuangan BPR wajib diserahkan kepada Otoritas Jasa Keuangan paling lambat di akhir bulan April setelah Tahun Buku berakhir.


  1. 2.

    Laporan wajib ditandatangani paling sedikit oleh 1 (satu) anggota Direksi BPR dengan mencantumkan nama secara jelas.


  1. 3.

    Bagi BPR dengan total aset setidaknya Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) Laporan Keuangan Tahunan wajib diaudit oleh akuntan publik yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan.


  1. 4.

    Bagi BPR dengan total aset kurang dari Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah), Laporan Keuangan yang dimasukkan dalam Laporan Tahunan adalah versi yang telah dipertanggungjawabkan oleh Direksi dalam rapat umum pemegang saham.


Fungsi Mengetahui Laporan Keuangan BPR


Mengetahui laporan keuangan BPR memiliki beberapa fungsi. Berikut di antaranya:


Menilai Kinerja Keuangan BPR


Kinerja keuangan BPR bisa tergambarkan dari jumlah laba yang didapat, dana pihak ketiga yang telah dikumpulkan, jumlah kredit tersalurkan, dan total aset. Untuk penilaian lebih jauh, kinerja keuangan juga bisa dilihat dengan mempertimbangkan aspek permodalannya yang ditandai dengan ekuitas, ataupun bisa melihat pada rasio-rasio keuangan yang menjadi pengukur kinerja keuangan.


Evaluasi Keberhasilan atau Permasalahan


Laporan keuangan BPR menjadi parameter utama untuk melakukan evaluasi strategi operasional, apakah BPR tersebut mengalami perkembangan atau justru penurunan kinerja. Karena laporan keuangan sudah mencakup semua pencatatan transaksi, maka pihak manajemen bisa melakukan evaluasi mendalam tentang sektor-sektor apa saja yang perlu ditingkatkan atau dibenahi. Jika terjadi penurunan kinerja, laporan keuangan BPR juga bisa mengindikasikan penyebab dari hal tersebut, sehingga pihak manajemen bisa menentukan jalan keluar yang tepat.


Sebagai Bentuk Transparansi dan Tanggungjawab


Laporan keuangan BPR adalah bentuk pertanggungjawaban bank kepada pihak-pihak pemangku kepentingan, tidak hanya pemerintah daerah, tapi juga publik yang menjadi kreditur dan debitur. Laporan keuangan yang komprehensif dan positif akan meningkatkan kredibilitas BPR di mata para stakeholder, karena hal tersebut menunjukkan bahwa manajemen bank memainkan perannya dengan baik.


Membantu Pengambilan Kebijakan


Dalam perjalanannya, manajemen BPR perlu mengambil kebijakan-kebijakan terkait operasional bank agar bisa beradaptasi dengan perkembangan terbaru. Namun, kebijakan-kebijakan ini tentu membutuhkan dasar atau basis yang tepat. Itulah fungsi keuangan BPR yang utama, yakni menjadi dasar untuk pengambilan kebijakan, baik itu kebijakan internal (penambahan pegawai, pengadaan vendor, dsb.) maupun kebijakan eksternal (perubahan suku bunga, skema pinjaman, dsb.).


Contoh dan Cara Membaca Laporan Keuangan BPR


Berikut ini contoh laporan keuangan BPR dan cara membacanya:


Dari laporan laba/rugi


Bagi masyarakat awam, cara membaca laporan keuangan BPR yang paling mudah adalah dengan melihat Laporan Laba Rugi. Dokumen ini memperlihatkan apakah bank yang bersangkutan mencatatkan laba atau kerugian dalam operasional. Ketika laba bersih menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, maka bisa dibilang kinerja BPR sedang mengalami tren positif.




Sumber :

Dari jumlah utang/kewajiban


Untuk menjaga likuiditas dana di BPR, sebaiknya utang/kewajiban dalam laporan keuangan jumlahnya tidak lebih besar dari nilai ekuitas. Apabila nilainya lebih besar, maka bank patut berhati-hati akan risiko gagal bayar. Namun begitu, hal ini bukan merupakan standar yang saklek, karena perlu diperhatikan alasan-alasan mengapa utang bisa lebih besar dari ekuitas.



Indikator selanjutnya dalam mengevaluasi laporan keuangan BPR adalah nilai utang. Akan lebih baik jika nilai utang yang mengandung bunga (seperti simpanan deposito) jumlahnya kecil, karena jenis utang berbunga ini akan menjadi beban operasional perusahaan yang menurunkan laba bersih.



Selain itu, BPR yang bagus seyogyanya memiliki total aset lancar yang lebih tinggi daripada utang lancar (kewajiban segera dibayar atau utang jangka pendek yang jatuh tempo dalam waktu setahun). Dengan begitu, apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, BPR tidak punya risiko gagal bayar.



Dari laporan arus kas



Untuk meninjau laporan keuangan BPR, jangan lupa untuk mengevaluasi laporan arus kas, terutama pengalokasian untuk pengeluaran. Laporan arus kas memudahkan publik untuk melihat kemana aliran dana BPR digunakan. Perhatikan pos-pos pengeluaran terbesar, dan dari situ bisa terlihat apakah BPR sudah memiliki prioritas yang baik dalam menjalankan aktivitas operasinya. Apabila kas akhir periode lebih banyak dari di awal periode, maka hal ini dinamakan arus kas positf - dan sebaliknya. Dalam kasus arus kas negatif, perlu diselidiki lebih lanjut apakah hal tersebut disebabkan oleh menurunnya kinerja bank, peningkatan investasi, atau hal-hal lain.


Walaupun terlihat rumit, faktanya laporan keuangan BPR menjadi indikasi utama tentang kinerja keuangan BPR dalam kurun waktu tertentu. Oleh karena itu, penting untuk bisa membaca laporan keuangan ini dengan baik sebelum membuat keputusan untuk mengajukan pinjaman/simpanan di BPR tertentu.



Untungnya, kini ada Komunal, yaitu platform online yang bisa menghubungkan para mitra UKM dan BPR ke para deposan di seluruh Indonesia. Di Komunal, deposan dapat memilih BPR pilihan dana investasi mereka akan dikembangkan. Selain dari imbal balik dengan bunga hingga 6%, deposan tidak perlu khawatir akan kestabilan keuangan BPR. Hal ini dikarenakan BPR yang tergabung dalam Komunal merupakan BPR terpilih sudah lolos dari seleksi yang ketat, baik dari segi legalitas, hingga stabilitas laporan keuangan.


Anda dapat mengetahui lebih banyak mengenai serba-serbi deposito BPR
share

Bagikan